Kamis, 14 April 2016

Tentang Iri

Beberapa hari yang lalu entah tanggal berapa saya lupa. Ketika saya sedang blogwalking ke blog ibu dokter aka Falla Adinda saya membaca sebuah postingan yang berjudul “Pasti Ada yang Berubah”.


nah ini screenshot blog teh Falla


Setelahnya saya membaca entah mengapa timbul rasa iri. Ohya ketika membaca nya saya baru saja menginjak usia 21 dan sedang berada di akhir semester. Yang saya iri-kan dari seorang teh Falla Adinda :

Saat belum menikah :

1.   Dia mempunyai seorang kekasih yang terramat menyayanginya.
Yang bisa dia rengek-rengek hanya untuk sedakar jalan keluar disaat lelah dengan rutinitasnya.
Yang bisa mengerti akan hobby nya yaitu menulis, menumpahkan isi kepala nya ke dalam blog dalam senang ataupun sedih.
Dan masih banyak lagi ke-iri-an saya terhadap teh Falla

Saat sudah menikah :

1.     Disaat dia masih kepala 2 Allah mempercayainya menjadi seorang ibu untuk anaknya, yang mana makin hari ku lihat di linimasa semakin menggemaskan.
2.    Pekerjaan, yang mana seorang ibu bisa tetap bekerja setiap hari namun tidak dengan waktu yang lama, melainkan 3 jam/hari. Waktu yang sangat singkat, dan saya semakin iri karena dia tidak butuh waktu satu hari penuh untuk meninggalkan anaknya bekerja.
Dan masih banyak lagi…

Setelahnya saya berpikir, “kapankah saya dapat bertemu dengan seorang kekasih yang dapat menerima saya apa adanya, dapat setia apapun keadaan saya, dan yakin akan kemampuan saya disaat saya sendiripun meragukannya?”

Hmm…
Ternyata benar kutipan yang saya sering baca dimana-mana namun saya tidak tahu siapa penulisnya, begini katanya “jangan lah kamu mengeluh atas apa yang kamu miliki, karena bisa jadi apa yang kamu eluh-eluhkan adalah apa yang orang lain idam-idamkan.